7 Tips ala Mendikbud Atasi Stres saat Belajar dan Mengajar di Rumah

7 Tips ala Mendikbud Atasi Stres saat Belajar dan Mengajar di Rumah

Sabtu, 02 Mei 2020

Nadiem Makarim - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Belajardirumah.org -  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membagikan tujuh tips untuk guru-guru maupun orang tua agar dapat dengan efektif memberikan pelajaran kepada anak dari rumah.

Berikut tips ala Nadiem yang dikatakan melalui live streaming acara Hardiknas 2020 di Youtube, Sabtu (2/5/2020): dikutip dari detikcom:

1. Jangan stres.
Jika masih banyak guru atau orang tua yang belum mengenal teknologi, cobalah untuk beradaptasi. Yakini bahwa cara terbaik untuk belajar suatu hal baru adalah untuk keluar dari zona nyaman tersebut,” jelas Nadiem.

2. Membagi kelas menjadi kelompok yang lebih kecil.
Dengan membagikan murid atau anak ke dalam beberapa kelompok kecil sesuai kompetensi mereka, maka waktu belajar akan lebih efektif.

“Cobalah membagi kelompok belajar berdasarkan kompetensi yang sama. Sebagai contoh mengapa 5 jam mengajar dalam satu hari harus dilakukan secara bersamaan, padahal itu bisa juga dibagi menjadi 5 kelompok yang lebih kecil melalui video conference. Setelah dibagi tersebut anak-anak dapat dibagi lagi sesuai dengan kompetensi mereka mungkin ada dengan pelajaran yang sulit atau diberi pelajaran yang mereka senangi, ” ujar Nadiem.

3. Para pengajar bisa memberikan group assignment yang menciptakan suatu tantangan dan kolaborasi. Dengan hal tersebut murid-murid dapat belajar bertanggung jawab, karena nilai mereka saling bergantung satu antarlainnya.

“Dan ini melatih empati mereka dan juga kemampuan mereka untuk mendorong kemampuan sesama lainnya. Dan yang terpenting untuk para siswa adalah asas gotong royong mereka itu juga terbentuk,” ungkap Nadiem.

4. Mengalokasikan waktu bagi murid-murid yang tertinggal di dalam kelas. Nadiem mencontohkan jika para guru dapat mengalokasikan waktu mereka kepada murid tersebut dengan baik, maka sang murid dapat lebih percaya diri bergabung lagi dengan yang lainnya nantinya setelah krisis COVID-19 berakhir.

“Mungkinkah ini juga kesempatan untuk melibatkan orang tua dalam lebih memahami dan membantu, seperti apa tantangan anak-anak mereka yang mungkin membuat pembelajaran terganggu atau lebih lambat di suatu topik tertentu,” jelas Nadiem.

5. Fokus kepada yang terpenting. Menurut Nadiem, kalau kita mengajarkan semua pembelajaran dalam waktu bersamaan maka anak-anak mungkin tidak dapat memahami dengan baik. Oleh karena itu daripada kejar tayang semua topik, inilah saatnya untuk menguatkan konsep fundamental yang mendasari kemampuan para murid untuk bisa sukses di pelajaran manapun.

6. Mencontek dari guru-guru lain.
Banyak guru yang berinovasi dengan metode belajar online. Sama seperti murid adapula guru yang lebih cepat beradaptasi dan ada juga guru yang lebih lambat dalam beradaptasi.

“Maka dari itu jangan ragu-ragu untuk meminta pertolongan dari guru lain. Jangan ragu untuk meminta contoh-contoh atau best practice dari guru lain. Seperti bagaimana menyampaikan bahan, bagaimana mereka menggunakan fitur-fitur software. Jadi itulah maksud saya dari mencontek guru lain,” jelas Nadiem.

7. Have fun. Nadiem berpendapat bahwa mengajar itu tidak mudah tapi siapa bilang harus membosankan.

“Walaupun kita dalam krisis, ini saatnya kita mencoba hal-hal yang masih diragukan namun dalam hati kita, kita rasa inilah yang terbaik. Inilah saatnya kita mendengarkan insting kita sebagai guru dan orang tua dan bukan hanya mengikuti proses seadanya. Seperti murid, inilah saatnya guru berinovasi dengan melakukan banyak tanya, banyak coba, dan banyak karya,” pungkas Nadiem.***

Sumber: detikcom

close