Mengajar dari Rumah, Nadiem Ajak Guru Keluar dari Zona Nyaman

Mengajar dari Rumah, Nadiem Ajak Guru Keluar dari Zona Nyaman

Selasa, 05 Mei 2020

Mengajar dari Rumah, Nadiem Ajak Guru Keluar dari Zona Nyaman

Belajardirumah.org -  Dengan adanya imbauan belajar dari rumah akibat virus corona (Covid-19), rutinitas pelajar kini identik dengan mengikuti telekonferensi, serta mengerjakan tugas sesuai perintah guru pada group chat.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemdikbud), sebanyak 97,6% sekolah di Indonesia sudah melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sedangkan, 2,4% lainnya belum bisa melakukan PJJ karena daerahnya belum terjangkit corona atau tidak memiliki perangkat pendukung.

Namun, bagi sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran daring, sejumlah persoalan masih mengintai mulai dari kendala gagap teknologi (gaptek) hingga jumlah tugas yang berlebihan.

Disebutkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), tantangan-tantangan yang dihadapi tenaga pendidikan akibat corona seharusnya menjadi kesempatan untuk berinovasi.

Dirinya kemudian memberikan sejumlah tips bagi pengajar agar mereka dapat keluar dari zona nyaman.

Jangan stres
Mendikbud Nadiem memahami bahwa transisi dari kegiatan belajar secara tatap muka ke pembelajaran daring membutuhkan penyesuaian.

“Jangan stres. Ini adalah masa adaptasi. Yakini bahwa cara terbaik untuk belajar suatu hal baru adalah dengan keluar dari zona nyaman,” ujar Nadiem pada video yang diunggah, Sabtu (2/5/2020).

Khususnya bagi pengajar yang terintimidasi dengan teknologi, Nadiem berpesan agar mereka aktif mempelajari metode belajar daring yang efektif.

Membagi kelas menjadi kelompok
Nadiem menyoroti adanya kecenderungan guru yang hanya memberikan tugas yang sama secara serentak dan memberikan nilai. Sedangkan, masing-masing murid memiliki tingkat pemahaman yang beragam.

Ia kemudian menyarankan agar guru berinovasi dengan membagi kelas menjadi kelompok belajar yang lebih kecil.

"Tidak semua murid punya level kompetensi yang sama, yang unggul di satu bidang belum tentu unggul di bidang yang lain. Cobalah membagi kelompok belajar berdasarkan kompetensi yang sama," ujarnya.

Mencoba project based learning
Lebih lanjut, dijelaskan oleh Nadiem, pembagian kelompok membuka kesempatan untuk project based learning atau pemberian tugas kelompok.

"Dengan bertanggung jawab dalam grup yang lebih besar, angka mereka terikat dengan satu sama lain. Mereka akan terpaksa untuk bekerja sama. Ini melatih empati mereka dan membentuk asas gotong royong," jelasnya.

Alokasikan lebih banyak waktu untuk yang tertinggal
Dengan lebih fokus pada murid-murid yang tertinggal di kelas, mereka akan lebih percaya diri saat kembali ke sekolah usai pandemi virus corona.

"Ini kesempatan emas untuk melibatkan orang tua untuk lebih memahami dan membantu tantangan anak-anak mereka yang mungkin terhambat di satu topik," imbuh Nadiem.

Fokus pada yang terpenting
Guru juga diharapkan tidak hanya menuntaskan kurikulum semata. Melainkan, mereka dapat fokus mengembangkan konsep-konsep fundamental seperti literasi, numerasi dan pendidikan karakter.

Adapun konsep-konsep fundamental ini merupakan penilaian dari asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Sistem penilaian penalaran ini ditunjukkan untuk menggantikan ujian nasional per tahun 2021.

Sering "nyontek" antar guru
Nadiem mengajak para guru untuk tidak malu bertanya kepada pengajar lainnya terkait model pembelajaran hingga fitur software yang efektif.

"Dengan video conference, para guru dapat nimbrung dan observasi ke kelas virtual guru-guru yang sudah lebih canggih di bidang teknologi dan telah berinovasi lebih jauh," pungkasnya.

Bersenang-senang
Tips terakhir, mengajar memang tidak mudah tetapi tidak harus membosankan.

“Inilah saatnya mendengarkan insting kita sebagai guru dan orang tua. Bukan mengikuti proses yang seadanya. Seperti murid, inilah saatnya guru dan orang tua berinovasi dengan melakukan banyak tanya, banyak coba, banyak karya,” tutupnya.