Saat Pandemi COVID-19, Nadiem Lebih Sering di Singapura -->

Saat Pandemi COVID-19, Nadiem Lebih Sering di Singapura

Rabu, 10 Juni 2020

Mendikbud Nadiem Bicara Soal Guru Honorer, Katanya...

Belajardirumah.org -  Selama musim pandemic Covid-19, khususnya di periode Maret-April, Mendikbud Nadiem Makarim hampir jarang terlibat pada kegiatan di Jakarta. Berhembus kabar bahwa dalam kurun waktu tersebut, Nadiem lebih banyak di Singapura.

Ada sejumlah kegiatan formal di lingkungan Kemendikbud yang dia hadiri, namun secara virtual. Seperti saat pelantikan pejabat eselon satu pada 8 Mei lalu. Diantara pejabat yang dilantik saat itu mantan staf khusus Nadiem, Iwan Syahril menjadi Dirjen Guru dan Tenaga Kependikan (GTK). Kemudian Sekjen Kemendikbud Ainun Naim, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, dan Totok Suprayitno sebagai Kepala Balitbang.

Agenda besar lain yang dihadiri Nadiem secara virtual adalah peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2020 pada 2 Mei lalu. Sambil mengenakan baju batik biru, Nadiem memimpin peringatan tahunan itu secara virtual.

Kabar Nadiem sering berada di Singapura kembali mencuat saat beredar foto bukti pembayaran pembuatan paspor atas nama Sierra Franklin Makarim. Nama tersebut adalah anak Nadiem yang lahir pada 22 April lalu. Bukti pembayaran pembuatan paspor biasa 48 lembar itu diterbitkan oleh KBRI Singapura dengan bandrol 35 dolar Singapura.

Terkait keberadaan Nadiem yang lebih sering berada di Singapura di tengah wabah Covid-19 itu, jajaran Kemendikbud tidak banyak komentar. Kepala Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbud Evy Mulyani tidak berkomentar saat dikonfirmasi kemarin. Begitupun dengan Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi dan Media Muhammad Haikal juga tidak berkomentar.

Sementara itu Sekjen Kemendikbud Ainun Naim memberikan komentar sedikit saat ditanya tentang keberadaan Nadiem yang sering di Singapura. ’’Kemarin (Senin, 8/6) saya dapat info beliau rapat di Istana Bogor,’’ kata guru besar Universitas Gadjah Mad aitu.

Ainun mengatakan detail keberadaan Nadiem setiap harinya tentu dia tidak mengetahui. Namun dia menegaskan, sepengetahuannya kegiatan di Kemendikbud berjalan normal dan progresnya baik. Saat ditanya apakah dalam kurun Maret hingga April Nadiem lebih sering di Singapura, Ainun tegas mengatakan tidak tahu.

Keberadaan Nadiem yang diduga sering di Singapura itu terjadi di tengah tuntutan yang tinggi terhadap kebijakan Kemendikbud. Sebelumnya sempat beredar tagar Mendikbud di cari mahasiswa di Twitter. Pemicunya adalah tuntutan keringanan SPP atau uang kuliah tunggal (UKT) oleh BEM seluruh Indonesia (BEM-SI).

Isu krusial lain yang ada di Kemendikbud saat ini adalah panduan new normal untuk dunia pendidikan. Sampai sekarang Kemendikbud belum merilis panduan new normal pendidikan. Sampai akhirnya sejumlah daerah membuat pandua new normal pendidikan sendiri-sendiri.

Ketua MPR Bambang Soesatyo mengatakan, pemerintah harus betul-betul berhati-hati jika ingin membuka sekolah. Harus dilakukan kajian mendalam dan teliti sebelum proses pembelajaran tatap muka dilakukan.

Menurut dia, perlu keputusan yang cermat untuk mencegah serangan virus Covid-19 tahap kedua yang berpotensi menyasar anak-anak usia sekolah. "Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas," tegasnya.

Saat ini, kata dia, sudah banyak anak yang terkena Virus Korona. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 30 Mei, terdapat 1.851 kasus positif Covid-19 pada usia anak. Hal itu membuktikan bahwa pentingnya pemerintah memberikan perlindungan kepada anak secara optimal saat memasuki kenormalan baru.

Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo juga mengimbau kepada orang tua siswa agar membimbing anak-anak mereka dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh, serta mencontohkan kepada mereka bagaimana memahami protokol kesehatan di masa transisi menuju new normal. "Agar apa yang dibutuhkan anak, seperti kasih sayang, kelekatan, keselamatan, dan kesejahteraan masih tetap dapat mereka rasakan dalam kondisi saat ini," tutur dia.

Politikus Partai Golkar itu mengatakan, jika nanti harus memulai belajar mengajar secara tatap muka, maka Kemendikbud harus mengimbau kepada pihak sekolah agar menyiapkan sarana dan prasarana untuk menghadapi penyebaran Covid-19 sesuai protokol kesehatan. Langkah itu untuk melindungi anak dari virus tersebut, karena usia anak sangat rentan tertular Covid-19. (prokal.co)