Anak Main Terus, Orang Tua Desak Sekolah Dibuka

Anak Main Terus, Orang Tua Desak Sekolah Dibuka

Rabu, 15 Juli 2020

Kebanyakan Orang Indonesia Main Internetan untuk Chatting dan ...

Belajardirumah.org -  Puluhan orang tua murid di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menuntut sekolah dasar negeri (SND) segera dibuka. Sebab libur panjang sekolah akibat corona jadi pemicu anak malas belajar dan lebih sering bermain.

Peristiwa tersebut terjadi di salah satu SDN di Desa Tebul Barat, Kecamatan Pegantenan, pada Selasa (14/7). Puluhan wali murid datang untuk menemui kepala sekolah. Mereka meminta agar sekolah dibuka dan diaktifkan kembali seperti biasanya.

Selama libur sekolah, wali murid menyebutkan anaknya lebih sering banyak bermain daripada belajar. Kepala sekolah tak berkutik kedatangan tamu wali murid sambil membawa sejumlah tuntutan.

Ketika kepala sekolah menjelaskan tantang alasan kenapa sekolah diliburkan, wali murid tidak banyak cakap. Justru mereka mengancam akan memindahkan anaknya ke lembaga lain, jika libur panjang masih diberlakukan.

Camat Pegantenan Benny Hendriyanto mengatakan, wali murid memprotes sekolah untuk dibuka, karena belajar di sekolah dinilai lebih efektif daripada di rumah. Di rumah anak lebih sering bermain, daripada belajar.

"Selain itu, saat libur banyak anak kurang mendapat pengawasan ketat dari orang tuanya. Sebab anak yang diawasi apabila orang tuanya itu sering berada di rumahnya. Sementara bagi orang tua yang jadi perantauan, kegiatan bermainnya tidak terkontrol," kata Benny kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/7).

Meski demikian, Benny tidak akan gegabah menyikapi persoalan tersebut. Bersama kepala desa setempat, ia akan mencari solusi untuk menyampaikan kepada wali murid perihal permintaannya untuk membuka sekolah.

"Sebab itu ranahnya pemerintah, tentu ini sudah intruksi dari pusat yakni Mendikbud Nadiem Makarim," singkatnya.

Sementara itu, Kabid Pendidikan Dasar Disdik Pamekasan Fatimatuz Zahrah menegaskan, sekolah diliburkan tetap bersandar pada intruksi Mendikbud Nadiem Makarim hingga menunggu pemberitahuan baru.

Menurut dia, lembaga sekokah ditutup semata untuk mencegah penularan virus corona. Oleh karena itu, pemerintah tak ingin para siswa tertular Covid-19 saat beraktivitas di sekolah.

"Belum ada kebijakan dari pemerintah pusat untuk menggelar pendidikan tatap muka. Tetap tidak bisa dibuka lagi karena kalau dibuka bisa melanggar SKB Menteri," pungkasnya.