KPAI: Ada Siswa Tak Naik Kelas saat Belajar Online, Padahal Daerahnya Tak Ada Internet

Advertisement

KPAI: Ada Siswa Tak Naik Kelas saat Belajar Online, Padahal Daerahnya Tak Ada Internet

Jumat, 24 Juli 2020

https: img.okezone.com content 2020 07 23 337 2250936 kpai-ada-siswa-tak-naik-kelas-saat-belajar-online-padahal-daerahnya-tak-ada-internet-ymqcuOytQX.jpg

Belajardirumah.org -  Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengadakan dua kali survei soal pembelajaran jarak jauh (PJJ) imbas Pandemi Covid-19.

"Dari data kami, 79,9 persen guru, siswa, orangtua tak suka belajar di rumah," jelas Retno saat diwawancara dalam program iNews Siang, Kamis (23/7/2020).

Menurut Retno, ketidaksetujuan itu didasari beberapa hal. Salah satunya, masalah pada alat, banyak dari siswa tak punya gawai untuk belajar daring. "Kalaupun punya, mereka tak bisa beli data internet, kalau orangyua anaknya tiga dalam keluarga, semuanya daring itu memberatkan juga," jelasnya.

Sehingga, jelas Retno, ada "bias class" atau ketimpangan sosial dalam pembelajaran jarak jauh. Siswa yang mampu akan terlayani, sedangkan siswa menengah ke bawah tak dapat terlayani dengan baik.

"Contohnya saja di Papua, ada 608 ribu siswa sekolah di sana, 54% tak terlayani daring," jelasnya.

Bahkan ada beberapa kasus di mana anak tak naik kelas karena dianggap tak mengerjakan tugas. Padahal, daerahnya tak terjangkau akses internet, sehingga dia tak tahu ada tugas dari sekolahnya.

"Ada juga kasus anak berkebutuhan khusus, misalkan ia pintar di psikomotior, suka bicara, tapi lemah dalam hal menulis, tapi sekarang tugasnya nulis terus, nah dia juga gak naik kelas karena dianggap kerjanya tak maksimal," keluh Retno.

"Padahal surat edaran Kemendikbud jelas, siswa jangan dibebankan untuk menuntaskan kurikulum, harusnya memahami kondisi anak, banyak anak jadi korban gara-gara ini," jelasnya.

Retno mengharapkan ada evaluasi dalam pembelajaran jarak jauh ini. Evaluasi itu diharapkan bisa menghasilkan solusi, seperti internet gratis untuk siswa.

"Lalu kurikulum juga harus adaptif dengan kondisi sekarang, kurikulum harus disederhanakan, agar anak tidak terbebani. Lalu juga harus ada pemetaan, siapa yang bisa daring, siapa yang tak punya daring, sekolah juga harus melihat ini sebagai instrumen untuk belajar jarak jauh," ungkapnya.