Mendikbud Nadiem Makarim Dinilai Tak Kompeten, Guru Besar UGM: Cocoknya Jadi Ini Dulu

Mendikbud Nadiem Makarim Dinilai Tak Kompeten, Guru Besar UGM: Cocoknya Jadi Ini Dulu

Jumat, 10 Juli 2020

Nadiem Ketinggian Jadi Menteri, Pantasnya Jadi Dirjen Dulu

Belajardirumah.org -  Berawal dari kecarut-marutan proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang kemudian berbuntut pada persoalan pendidikan lainnya, kinerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kembali jadi sorotan dan tuai kritik tajam dari praktisi dan pengamat pendidikan.

Visi Nawacita yang diusung Presiden Joko Widodo (Presiden Jokowi) tampaknya belum bisa diwujudkan dalam program nyata oleh Mendikbud Nadiem Makarim.

Guru Besar Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Wahyudi Kumorotomo, menyatakan Nadiem sebagai menteri Pendidikan tidak betul-betul menguasai peta persoalan pendidikan di Indonesia.

Sehingga, menurut Wahyudi, jabatan menteri dinilai terlalu tinggi, pantasnya Nadiem lebih cocok untuk menjadi salah satu dirjen dalam Kementerian Pendidikan terlebih dahulu.

Misalnya, menjadi dirjen yang membuat inovasi bidang teknologi pendidikan.

"Nadiem agaknya lebih cocok menjadi salah satu dirjen dalam Kementerian Pendidikan yang dapat membuat inovasi di bidang teknologi pendidikan," ujar Wahyudi Kumorotomo dalam diskusi zoom dan live youtune Pustakapedia, Selasa 7 Juli 2020.

Wahyudi beralasan terdapat konteks yang berbeda di Kemendikbud yang kini menangani semua jenjang pendidikan di Indonesia. Selain itu, ide Nadiem yang menghendaki semua kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM) dilakukan secara daring tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

"Banyak daerah yang belum mempunyai infrastruktur pendidikan yang memadai. Jangan lagi internet, bahkan banyak daerah di Indonesia yang belum teraliri listrik.

Hal ini tentu memerlukan segregasi dan segmentasi kebijakan sesuai dengan kenyataan di setiap daerah.

Artinya tidak semua jenjang dan daerah dapat dilakukan PBM secara daring karena banyak materi pembelajaran yang memerlukan mentoring pengajar,” kata Wahyudi.

Selain itu, program Merdeka Belajar juga menurut Wahyudi tak bisa benar-benar diimplementasikan.

"Program Merdeka Belajar sejauh ini tampak baru sebatas gimmick," tegasnya.***