UPDATE INFO, 1 Nomor HP Dimungkinkan Bisa untuk Menampung Subsidi Pulsa 3 Pelajar

UPDATE INFO, 1 Nomor HP Dimungkinkan Bisa untuk Menampung Subsidi Pulsa 3 Pelajar

Sabtu, 29 Agustus 2020

Kemendikbud siapkan subsidi pulsa Rp9 triliun untuk PJJ

Belajardirumah.org -   Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memberikan subsidi pulsa senilai Rp 35 ribu atau setara 35 gigabyte (GB) bagi siswa dalam belajar jarak jauh via daring. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Dirjen Paud Dikdasmen) Jumeri menyebutkan, pihaknya akan memberikan seluruh pulsa bagi peserta didik.

"Ini pulsa ini kalau misal anak dalam satu rumah HP-nya ada satu, anaknya tiga. Maka sementara ini, rencananya ketiga-tiganya akan diberi," kata Jumeri dalam sesi webinar, Jumat (28/8).

Menurut Jumeri, pihaknya belum bisa menjelaskan lebih rinci menyangkut hal itu. Tapi dia berencana akan memberikan pulsa ke seluruh peserta didik kendati hanya punya satu nomor. "Kami harus diskusi dengan operator dulu, tapi kira-kira ke sana," jelasnya.

Jumeri menyebut, pulsa yang diberikan bagi jenjang pendidikan SD hingga SMA jumlahnya sama, yakni Rp 35 ribu atau setara 35 gigabyte sebulan. Bukan hanya para peserta didik, guru pun mendapatkan subsidi ini, yakni Rp 42 ribu sebulan. Sedangkan mahasiswa dan para dosen Rp 50 ribu sebulan.

"Perhitungannya (didasarkan oleh) kalau dosen dan mahasiswa itu tingkat internetnya lebih luas gitu loh, lebih gede sehingga diberi kuota lebih besar juga," katanya.

Sementara itu, Jumeri menerangkan bahwa peserta didik yang tidak memiliki gawai pada tahap ini, maka nomornya bisa diisi subsidi pulsa tersebut di tahap berikutnya. Jika mereka sudah mempunyai handphone.

"Sementara bagi peserta didik yang belum memiliki gawai dan nomor handphone, maka bisa diisi pada tahap berikutnya," katanya.

"Tidak usah khawatir, tidak akan ada yang ditinggal. Mungkin sekarang tidak punya gawai karena berpikir pulsanya, kan begitu ada subsidi pulsa orang akan berubah saya berikan HP karena pulsanya sudah diberi negara," sambung dia.

Sedangkan bagi mereka yang memang sama sekali tak mempunyai gawai, kata Jumeri, maka tidak perlu diberi kuota. Pasalnya sebagian besar mereka yang tidak punya gawai, menurut Jumeri adalah peserta didik yang berada di daerah 3 T (terdepan, terluar, tertinggal). Di mana banyak dari mereka masih melakukan pembelajaran tatap muka.

"Tadi yang tidak punya sebagian besar berada di daerah 3 T dan itu 80 persen (zona) hijau artinya bisa tatap muka normal, tidak perlu kuota," jelasnya.

Sementara untuk pengawasannya, lanjut Jumeri pihaknya akan terus memonitor perkembangan subsidi pulsa tersebut. Bahkan jika ada keluhan dari masyarakat soal koneksi internet pada suatu operator ternyata tidak stabil, maka pihaknya akan menegur operator bersangkutan.

"Kalau sampai lemot, atau lambat dalam akses internet, kita akan komplain pada provider itu bahwa ternyata akses internet yang disediakan tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Nah ini kita akan terus awasi," tegasnya.

Dengan adanya subsidi pulsa itu, pihaknya berharap orang tua bisa mengendalikan penggunaan kuota data anaknya. Supaya tak dipakai mengakses hal-hal yang tidak dibutuhkan.

"Jadi kita harus siap sebagai orang tua harus membimbing, mengawasi. Tidak boleh dibiarkan lepas, tapi ditunggui, dibimbing. Kita melepas pulsa ini ada risikonya, mari kita mitigasi risiko itu," pungkasnya. (Sumber : Merdeka)