Mendikbud Nadiem BATALKAN Sekolah Januari 2021, Epidemiolog Minta Dibuka pada Februari Saja, Ini Alasannya -->

Mendikbud Nadiem BATALKAN Sekolah Januari 2021, Epidemiolog Minta Dibuka pada Februari Saja, Ini Alasannya

Minggu, 03 Januari 2021

Belajardirumah.org -  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali mengumumkan bahwa rencana sekolah tatap muka di bulan Januari 2021 batal diselenggarakan.


Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, ada kekhawatiran jika sekolah tatap muka kembali dibuka menjadi alasan kuat batalnya rencana tersebut.


Hal ini lantaran kasus Covid-19 di beberapa daerah di Indonesia mengalami peningkatan.


Kendati demikian, belum lama ini Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan survei singkat tentang persepsi peserta didik terhadap rencana pemerintah membuka sekolah di awal tahun 2021.


Dari survei tersebut, hampir 80 persen siswa setuju sekolah tatap muka dimulai awal tahun 2021.


Namun, epidemiolog Griffith University Dicky Budiman meminta agar pemerintah membuka kembali sekolah tatap muka pada Februari 2021.


Dicky menyebut pembukaan kembali sekolah sangat berisiko.


"Di bulan Desember ini kita menghadapi kejadian yang terburuk. Yang jelas, secara teoritis praktis pengalaman berbagai tanda bahwa adanya Pilkada, Pemilu, ataupun keramaian akan memperburuk. Ditambah lagi adanya potensi libur panjang akhir tahun atau awal tahun," ujar Dicky, dalam tayangan di Antara News.


Oleh karena itu, Dicky menyarankan agar pemerintah sebaiknya membuka sekolah pada akhir Februari 2021.


Hal ini disebabkan, angka positivity rate di rata-rata daerah di Indonesia belum ada yang mencapai 5-8 persen, sehingga membuat pandemi Covid-19 belum dapat dikendalikan.


Terlepas dari itu, meski 78,17 persen siswa mengaku ingin merasakan sekolah tatap muka kembali, namun 10 persen lainnya tidak setuju pelaksanaan sekolah tatap muka.


Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan, mayoritas responden yang setuju memiliki alasan sudah jenuh dengan pembelajaran jarak jauh persentasenya sekitar 56 persen.


Sedangkan alasan tidak setuju karena khawatir tertular Covid-19 serta kasus Covid-19 masih tinggi di daerahnya sebanyak 45 persen.


"Ada juga yang menyatakan meragukan kesiapan sekolahnya dalam menyediakan infrastruktur dan protokol kesehatan/SOP adapatasi kebiasaan baru di sekolah di satuan pendidikan. Yang menyatakan alasan ini mencapai 40 persen responden," ujarnya, dikutip dari Kompas.com.


Meski begitu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan lebih lanjut dari pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (Sumber : https://health.grid.id/)