Ketua Honorer Ungkap Kondisi Guru Honorer Usai Tes PPPK 2021, Mengkhawatirkan, Banyak yang Stres, Tanggapan Nadiem? Simak -->

Ketua Honorer Ungkap Kondisi Guru Honorer Usai Tes PPPK 2021, Mengkhawatirkan, Banyak yang Stres, Tanggapan Nadiem? Simak

Minggu, 19 September 2021

Belajardirumah.org - Kondisi sebagian besar guru honorer pascates PPPK 2021 makin mengkhawatirkan. Hal itu diungkap Ketua DPD Forum Honorer Nonkategori Dua Persatuan Guru Honorer Republik Indonesia (FHNK2 PGHRI) Jawa Timur Nurul Hamidah. 


Menurut Bu Nurul, panggilan akrab Nurul Hamidah, banyak rekannya yang stres karena memikirkan hasil tes PPPK guru yang tidak sesuai harapan.


"Ya Allah, saya setiap hari menangis mendengar keluhan kawan-kawan guru honorer. Mereka tertekan batin karena takut tidak lulus seleksi PPPK 2021," kata Nurul kepada JPNN.com, Minggu (19/9).


Dia menyebutkan banyak guru honorer non-K2 yang tertolong setelah ditambahkan afirmasi 15 persen. 


Namun, lanjut Nurul, tidak sedikit pula yang gagal meski sudah ditambahkan afirmasi.


Dia mengaku mereka sudah membentuk kelompok belajar dan mempelajari modul-modul yang disiapkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan PGRI. 


Sayangnya, kata dia, masih ada juga yang tidak berhasil.


"Karena passing grade tinggi bagi guru honorer yang sudah usia limit," ucapnya.


Bagi guru honorer usia muda, lanjutnya, tidak ada masalah, sebab mereka bisa mengerjakan soal-soal higher order thinking skill (HOTS) dengan mudah karena otaknya masih encer.


Demi rasa keadilan, Nurul berharap pemerintah merealisasikan permohonan FHNK2 PGHRI yang sudah disampaikan kepada Komisi X DPR RI, PGRI, dan Kemendikbudristek, yaitu afirmasi masa pengabdian guru honorer.


Seluruh guru honorer berharap pemerintah jangan berat hati mengabulkan permohonan tersebut. 


Dia mengingatkan jangan segala sesuatunya diukur dengan tes. 


Pandanglah guru honorer dari sisi loyalitas kepada negara, dedikasi, keuletan, kesabaran, dan semangat.


"Pengorbanan kami bukan hanya materi tetapi banyak lagi dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ungkap Bu Nurul. 


Guru-guru honorer di daerah pelosok bahkan menjadikan nyawa mereka sebagai taruhan dalam pengabdian. 


Semua itu dilakukan demi masa depan siswa dan tanggung jawab membentuk karakter anak didik.


"Tolong Mendikbudristek Nadiem Makarim memahami itu. Semua tidak bisa diukur dengan tes ujian tetapi keuletan, kesabaran, dedikasi, dan semangat yang sudah teruji," pungkas Nurul. (esy/jpnn)