Mengenali Pak Maman, 40 Tahun Jadi GURU HONORER Muridnya Ada yang Jadi Rektorat Hingga Jenderal, Simak Cerita Selengkapnya -->

Mengenali Pak Maman, 40 Tahun Jadi GURU HONORER Muridnya Ada yang Jadi Rektorat Hingga Jenderal, Simak Cerita Selengkapnya

Kamis, 01 Juli 2021

 


Belajardirumah.org - Maman (75) masih setia dengan profesinya, guru honorer. Sudah sejak 1976 dia menjadi guru mengajar seni budaya, seni musik, dan seni rupa untuk siswa SMP.


Bermula dari Bandung, pada 1976 dia ditawari jadi guru seni musik. Dahulu, Maman berprofesi menjual alat musik angklung ke sekolah. Karena kepiawaiannya dia diajak seorang guru menjadi guru seni musik.


Akhirnya, setelah berpikir panjang dia menerima penawaran itu. Mulailah Maman mengajar seni musik. Empat tahun kemudian dia menikah dan pindah ke Bekasi. Di Bekasi, Maman melanjutkan jalan hidupnya menjadi guru, dengan mata pelajaran yang sama.


Dia mengajar di SMP PGRI dan mulai tahun 90-an di SMPN 17 Bekasi. Kursi PNS tak pernah dia raih, karena usianya saat pembukaan pendaftaran PNS melewati syarat. 


Tapi, itu tak membuat Maman patah arang. Dia tetap mengajar membagi ilmu ke murid-muridnya, hingga kini sudah 40 tahun dan masih semangat mengajar.


"Murid saya ada yang jadi dokter, ada juga yang sudah jadi Brigjen," jelas Maman saat ditemui usai mengajar di SMPN 17 Bekasi Pondokgede.


Murid-muridnya itu masih kenal dan sayang pada Maman. Mereka kadang kerap silaturahmi. Dan Maman ada hadiah yang kadang diberikan sebagai kenang-kenangan untuk guru Maman.


"Alhamdulillah ada saja yang ngasih, buat nambah-nambahin saya," jawab dia.


Maman sejak dahulu hingga sekarang masih tinggal di kontrakan. Untuk honor sebulan, bila jam mengajar penuh dia bisa mendapatkan Rp 1,5 juta. 


Untungnya, dia tak ada tanggungan, lima anak-anaknya sudah bekerja dan menikah.


Menikmati masa tua, Maman mengisi dengan mengajar. Dia ingin terus membagi ilmu. "Saya selama ini nggak bermasalah dengan gaji. Yang penting anak-anak dapat ilmu seni dan budaya," tutup dia.


Semangat masih terlihat di dalam diri Maman. Pria berusia 75 tahun ini beberapa kali memberi instruksi ke murid-muridnya di kelas IX di SMPN 17 Bekasi. Murid-murid diminta membuat gambar produk iklan komersil.


Beberapa siswa terlihat kebingungan. Mereka tak membawa buku gambar. Maman, kemudian menghampiri dan menanyakan alasan mereka tak membawa buku gambar, padahal pelajaran hari ini, Selasa adalah seni budaya.


Berbagai macam alasan dikemukakan sejumlah murid. Maman kemudian mencatat nama-nama mereka yang tidak membawa buku. 


Para siswa ini diminta membuat surat dan ditandatangani orangtua alasan mereka tak membawa buku gambar. Surat itu diserahkan di pertemuan selanjutnya.


Setelah itu, Maman membagikan kertas gambar ke para siswa yang tak membawa buku gambar. Seorang siswa, berbisik ke detikcom yang ikut di dalam kelas. Kalau Guru Maman pasti membagikan kertas gambar, jadi beberapa siswa memang sengaja tidak membawa buku gambar.


"Ayo anak-anak gambar produk iklan komersil, silakan," tegas dia. Ada lebih dari 30 siswa dan siswi di ruangan kelas SMPN 17 Bekasi yang terletak di Pondokgede.


Serempak murid-murid mulai mencorat coret kertas mereka. Sedang Maman berkeliling kelas sambil membawa penggaris kayu. Sambil melihat hasil gambar muridnya, dia memeriksa kebersihan kelas.


"Ini sampah coba diambil, buang ke tempat sampah," kata dia menunjuk ke seorang siswa yang di bawah mejanya ada sampah kertas.


Setelah memutar dari satu meja ke meja lain, Maman kemudian duduk di depan. Beberapa murid menghampiri dan menanyakan hasil gambar mereka.


"Kamu kok gambar pasta gigi seperti ini. Coba nama produknya, pakai nama hasil buatanmu sendiri," jelas dia.


Diskusi dia lakukan dengan siswanya yang maju ke meja guru menanyakan soal gambar. Maman kemudian membantu membuatkan garis dan mengarsir gambar itu.


Dua jam pelajaran hari ini diisi Maman di kelas IX. 1 Jam pelajaran sekitar 40 menit. Sekitar pukul 11.00 WIB, pelajaran seni budaya selesai. Maman mewanti-wanti muridnya agar mengumpulkan tugas menggambar produk iklan itu.


"Ayo yang belum selesai segera diselesaikan. Jangan sampai push up di depan kelas," kata dia. Selama dua jam pelajaran murid-murid ini diberi kesempatan berkreasi dengan gambar produk iklan.


Setelah selesai mengumpulkan pekerjaan para siswa, sambil berjalan menuju ruang guru Maman bertutur soal nasibnya yang sudah 40 tahun menjadi guru honorer.


"Saya sejak 1976 jadi guru honorer di Bandung. Dulu saya jualan angklung, terus ada sekolah yang nawarin saja jadi guru honorer," terang dia.


Maman memulai karier sebagai guru honorer di Bandung, mengajar seni rupa dan seni musik. Hingga empat tahun kemudian dia pergi ke Bekasi mengikuti tempat tinggal istrinya. Tahun 1980-an, Maman menjadi guru honorer di Bekasi, di dua sekolah SMP. Seperti di Bandung dia mengajar seni rupa dan seni musik.


"Saya lahir tahun 1950-an, waktu ada pengangkatan PNS umur saya 40 tahun jadi sudah tidak memenuhi syarat," lanjut dia.


Suka duka dia jalani sebagai guru honorer. Maman menikah dua kali setelah istri pertamanya meninggal. Dia memiliki lima anak yang sudah bekerja semua. Anda masih penasaran dengan kisah Maman? Ikuti terus berita selanjutnya.


sumber; news.detik.com


Demikian info yang dapat kami sampaikan.